Tradisi Sawalan di Banten Disorot, Pengelola Tegaskan Upaya Kenyamanan dan Klarifikasi Isu di Lapangan

Table of Contents


Serang,Kilasbanten news.com - Tradisi sawalan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri di Provinsi Banten kembali menjadi sorotan publik, menyusul sejumlah pemberitaan terkait kondisi di kawasan wisata religi.

Sekretaris Umum BKKMHB (Badan Kenaziran Kesultanan Maulana Hasanuddin Banten) Tubagus Mahdi Syam, menyampaikan bahwa tradisi sawalan telah mengakar kuat di tengah masyarakat Banten. Menurutnya, bagi sebagian warga, merayakan Idul Fitri belum lengkap tanpa melakukan ziarah ke makam para sultan dan leluhur.

“Kalau tidak sawalan di Banten, rasanya tidak afdol. Ini sudah menjadi tradisi masyarakat,” ujarnya saat ditemui di Serang.

Ia menjelaskan, mayoritas pengunjung yang datang merupakan masyarakat dari kalangan menengah ke bawah dengan tujuan utama berziarah dan bertawassul. Hal ini, kata dia, turut mempengaruhi tingkat kepatuhan terhadap imbauan yang telah disampaikan pengelola.

“Kami sudah memasang berbagai imbauan, seperti melepas sandal atau sepatu sebelum memasuki area tertentu. Namun, dalam praktiknya masih ada yang belum mematuhi. Ini menjadi bahan evaluasi kami untuk terus melakukan edukasi secara berkelanjutan,” katanya.

Terkait anggapan bahwa masjid di sekitar area makam tampak sepi, TB Mahdi menilai hal tersebut perlu dilihat secara proporsional. Ia menegaskan, pada waktu salat tiba, pengunjung justru memadati masjid.

“Kalau dilihat pagi hari mungkin tampak sepi, tapi saat waktu Zuhur masuk, seluruh aktivitas ziarah dihentikan dan pengunjung beralih ke masjid untuk salat berjamaah,” jelasnya.

Ia juga menanggapi isu adanya pungutan untuk penggunaan fasilitas air wudhu. Menurutnya, tidak ada kebijakan resmi terkait pungutan tersebut di area yang dikelola.

“Di area masjid tidak ada petugas yang meminta bayaran untuk wudhu. Kalau pun ada, kemungkinan itu oknum di luar area kami. Yang ada hanya kotak amal dengan imbauan sukarela untuk bersedekah,” tegasnya.

Dalam hal pengelolaan fasilitas, pihaknya mengaku terus berupaya meningkatkan pelayanan, termasuk aspek kebersihan, kenyamanan, dan keamanan. Ia menyadari, lonjakan pengunjung saat momentum sawalan menjadi tantangan tersendiri.

“Kalau pengunjung membludak, tentu ada dinamika di lapangan. Ini juga terjadi di tempat wisata lain. Namun, alhamdulillah di sini tidak ada laporan kehilangan anak atau kejadian menonjol,” ujarnya.

Pengamanan kawasan, lanjut dia, dilakukan secara kolaboratif dengan berbagai pihak, termasuk unsur keamanan internal dan dukungan dari instansi terkait seperti PUPR.

“Semua pihak terlibat untuk memastikan keamanan dan kenyamanan pengunjung tetap terjaga,” katanya.

Ia berharap, tradisi sawalan tetap dapat berlangsung dengan tertib dan nyaman, serta diimbangi dengan kesadaran pengunjung dalam mematuhi aturan yang telah ditetapkan.

(Pin)