Hampir Dua Jam Menunggu, Pimpinan Rektorat Tak Kunjung Temui Massa: Aliansi Mahasiswa FTIK Soroti Sikap Kampus Soal UKT
Serang, kilasbantennews.com 11 September 2026 — Aliansi Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTIK) yang terdiri dari sejumlah organisasi mahasiswa (Ormawa) FTIK menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Rektorat UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Jumat (11/9/2026). Aksi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan keresahan dan tuntutan, terutama terkait persoalan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dinilai semakin membebani mahasiswa dan keluarga.
Massa aksi menyampaikan aspirasi secara tertib dan menunggu pihak rektorat untuk memberikan respons secara langsung. Sebelumnya, mahasiswa memperoleh informasi bahwa pimpinan universitas akan menemui massa aksi untuk menerima dan merespons tuntutan yang disampaikan.
Namun, hampir dua jam berlalu, Wakil Rektor I dan Wakil Rektor II yang disebut akan menemui massa aksi tidak kunjung hadir di hadapan mahasiswa. Kondisi tersebut kemudian memicu kekecewaan massa aksi yang sejak awal telah menyampaikan aspirasi secara tertib.
Arlan selaku Koordinator Aksi menilai persoalan tersebut tidak seharusnya dianggap sebagai persoalan kecil, terlebih isu yang dibawa menyangkut akses dan keberlangsungan pendidikan mahasiswa.
“Kami datang ke sini bukan untuk membuat keributan. Kami datang untuk menyampaikan keresahan mahasiswa secara tertib. Kalau mahasiswa sudah menunggu hampir dua jam, sementara pimpinan yang dijanjikan untuk menemui kami tidak kunjung hadir, tentu muncul pertanyaan: sebenarnya sejauh mana kampus mau mendengarkan suara mahasiswa?”
Menurut Ketua Departemen Advokasi dan Sosial, persoalan UKT bukan hanya persoalan nominal pembayaran, melainkan berkaitan langsung dengan kemampuan ekonomi keluarga mahasiswa. Penetapan UKT yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi ekonomi mahasiswa berpotensi menjadi beban serius bagi keberlangsungan studi.
“UKT bukan sekadar angka di dalam sistem akademik. Di balik angka itu ada orang tua yang bekerja, ada mahasiswa yang berjuang untuk tetap kuliah, dan ada keluarga yang harus memilih antara memenuhi kebutuhan hidup atau membayar biaya pendidikan.” ujar Yusril.
Aliansi Mahasiswa FTIK juga menegaskan bahwa kehadiran mereka di depan rektorat merupakan bentuk kontrol mahasiswa terhadap kebijakan kampus. Mereka meminta agar aspirasi tidak berhenti pada penerimaan secara administratif, tetapi ditindaklanjuti dengan kebijakan dan penyelesaian yang konkret.
“Kami tidak membutuhkan sekadar janji bahwa aspirasi akan disampaikan. Kami membutuhkan keberanian pimpinan untuk hadir, berdialog, dan memberikan kejelasan. Karena ketika mahasiswa sudah datang dan menyampaikan aspirasi secara tertib, maka menghargai mereka berarti hadir dan mendengarkan.” ucap Ketua HMPS PAI, Syahrur Rozi.
Hingga aksi berlangsung, kekecewaan mahasiswa terhadap sikap pihak rektorat menjadi salah satu sorotan utama. Aliansi Mahasiswa FTIK menyatakan akan terus mengawal persoalan UKT dan tuntutan lainnya sampai terdapat respons yang jelas dan langkah konkret dari pihak universitas.
Bagi massa aksi, persoalan UKT bukan sekadar persoalan administratif kampus, melainkan persoalan keadilan dalam mengakses pendidikan. Ketika biaya pendidikan semakin berat, mahasiswa menuntut agar kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu, tetapi juga menjadi ruang yang mampu mendengar dan memperjuangkan kepentingan mahasiswanya.
(Misbak)
