Dua Tahun Asta Cita: Pengamat Dorong Reformasi Kebijakan Ekonomi Mikro dan Akselerasi Kesejahteraan SDM Daerah

Table of Contents




SERANG, kilasbantennews.com 19 OKTOBER 2026 – Aktivis Mahasiswa Banten menggelar Diskusi Publik berskala daerah bertajuk "2 Tahun Asta Cita: Janji Manis di Luar, Pahit di Dalam!" yang berlangsung sejak pukul 16.00 WIB hingga selesai pada Senin, 19 Oktober 2026. Forum diskusi ini dihadiri oleh ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, akademisi, hingga perwakilan organisasi masyarakat sipil untuk melakukan evaluasi menyeluruh atas perjalanan dua tahun implementasi program prioritas pemerintah nasional.


Dalam pemaparannya, Pengamat Pembangunan Nasional, Farhan Dwiko, menyampaikan analisis mendalam terkait dinamika pembangunan yang terjadi selama dua tahun terakhir. Farhan Dwiko menekankan bahwa meskipun indikator makro ekonomi nasional dan narasi capaian pembangunan kerap ditampilkan dengan performa yang memuaskan di tingkat pusat, realitas di tingkat daerah penyangga seperti Banten masih menghadapi berbagai tantangan struktural yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah.


Farhan Dwiko menjelaskan bahwa dua tahun perjalanan Asta Cita merupakan momentum yang tepat untuk melakukan evaluasi secara jujur, objektif, dan transparan. Menurutnya, kritik yang disampaikan oleh elemen akademisi dan gerakan mahasiswa bukanlah bentuk penolakan terhadap program pemerintah, melainkan wujud kepedulian serta fungsi kontrol sosial agar arah kebijakan tetap berjalan di atas koridor kedaulatan rakyat. Ia menyoroti masih tingginya angka pengangguran tersembunyi (underemployment), belum optimalnya penyerapan tenaga kerja lokal di kawasan-kawasan industri strategis, serta masih terbatasnya jangkauan beasiswa pendidikan tinggi untuk anak-anak muda di daerah pelosok.


Guna mengatasi persoalan tersebut, Farhan Dwiko memberikan serangkaian rekomendasi solusi yang bernilai konstruktif bagi pemerintah pusat maupun daerah. Ia mendesak dilakukannya penyesuaian fokus kebijakan pada tahun ketiga pelaksanaan Asta Cita dengan menitikberatkan pada penguatan ekonomi riil dan sektor UMKM. Selain itu, pemerintah diimbau untuk segera menetapkan regulasi tegas mengenai kewajiban penyerapan minimal 60% tenaga kerja lokal pada investasi kawasan industri daerah yang dibarengi dengan program pelatihan serta sertifikasi keahlian secara gratis.


Sebagai langkah transparansi, Farhan Dwiko juga mendorong dibentuknya platform dashboard pemantauan capaian program Asta Cita yang dapat diakses secara real-time oleh publik hingga tingkat kabupaten dan kota. Langkah ini dinilai sangat penting untuk memangkas jarak komunikasi antara klaim capaian pemerintah dengan fakta harian yang dialami masyarakat, sekaligus membuka ruang partisipasi publik dalam mengawal keberlanjutan pembangunan nasional secara inklusif dan berkeadilan.


Melalui forum diskusi ini, Aktivis Mahasiswa Banten bersama Farhan Dwiko berharap seluruh catatan evaluasi dan rekomendasi yang dirumuskan dapat ditindaklanjuti secara positif oleh para pemangku kebijakan demi mewujudkan cita-cita pembangunan yang dampaknya benar-benar dapat dirasakan langsung oleh seluruh lapisan masyarakat.


(Misbak)