REFLEKSI 98 TAHUN SUMPAH PEMUDA: PEMUDA UNTUK INDONESIA RAYA

Table of Contents


 

 

 


Serang kilasbnatennews.com  Sembilan puluh delapan tahun lalu, pada 28 Oktober 1928, para pemuda berikrar: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa. Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi pengingat bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan perpecahan. Kemerdekaan bukan tujuan akhir, melainkan awal untuk membangun bangsa yang lebih baik.

 

Saat ini ada sekitar 64,22 juta pemuda di Indonesia — kekuatan besar yang harus diubah menjadi kemajuan nyata, bukan sekadar angka. Indeks Pembangunan Pemuda memang meningkat, namun masih berjalan lambat. Pemuda tidak hanya butuh kecerdasan akademik, tetapi juga karakter, keterampilan, kepemimpinan, dan kemampuan bekerja sama.

 

Di dunia digital, pemuda harus cerdas memilah informasi, tidak mudah terprovokasi, dan memanfaatkan teknologi untuk hal yang bermanfaat. Menjadi agen perubahan dimulai dengan mengubah diri sendiri terlebih dahulu — berani berbicara benar, tetapi juga menawarkan solusi.

 

Di Banten, kita memiliki potensi besar, tetapi masih banyak tantangan: kesempatan kerja yang terbatas, ketimpangan akses pendidikan, dan peran pemuda yang belum maksimal dalam kebijakan. Nilai-nilai luhur dari tokoh seperti Syekh Nawawi Al-Bantani mengajarkan kita untuk maju tanpa melupakan akar dan identitas.

 

Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud dengan sendirinya. Itu tergantung pada pemuda hari ini — berpendidikan, berkarakter, berintegritas, dan saling bersatu. Sumpah Pemuda mengajak kita: bukan hanya mengulang ikrar, tetapi mewujudkannya dalam tindakan nyata.

 

Pemuda untuk Indonesia Raya — hari ini, bukan nanti.

 

Muhamad Royhani memaparkan pandangannya dalam refleksi 98 tahun Sumpah Pemuda.


(Red)