SOROTAN PELAYANAN RSUD BANTEN: KELUARGA PASIEN KELUHKAN PENANGANAN MEDIS DAN SIKAP PETUGAS DI IGD
SERANG, BANTEN.kilasbantennews.com — Pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Banten menjadi sorotan menyusul pengalaman keluarga pasien bernama Khumairoh, korban kecelakaan bermotor yang mengalami luka pada bagian tangan. Keluarga pasien mengeluhkan sejumlah hal, mulai dari sikap petugas, lambatnya penanganan yang mereka rasakan, hingga kondisi ruangan yang dinilai kurang nyaman.
Berdasarkan kronologi yang disampaikan keluarga, pasien disebut telah menunggu hampir seharian tanpa mendapatkan tindakan penjahitan luka. Dalam masa penantian tersebut, pasien dilaporkan merintih kesakitan dan menangis, sementara keluarga menilai respons serta perhatian petugas belum memadai.
Kondisi tersebut menimbulkan kekecewaan dan pertanyaan mengenai kecepatan respons, komunikasi, serta kualitas pelayanan yang seharusnya diterima oleh pasien dalam situasi darurat.
Sikap Petugas dan Komunikasi yang Dikeluhkan
Keluarga pasien mengungkapkan bahwa sejumlah petugas dinilai kurang ramah dalam memberikan pelayanan. Selain itu, informasi mengenai proses penanganan maupun pemanggilan keluarga untuk keperluan tertentu disebut kurang jelas dan sulit terdengar, terutama di ruangan yang cukup luas dan tanpa pengeras suara yang memadai.
Keluarga juga menyoroti keberadaan petugas yang dinilai kurang responsif ketika pasien atau pendamping membutuhkan bantuan. Di sisi lain, petugas keamanan disebut lebih sering berkeliling atau menggunakan telepon genggam, sementara keluarga merasa masih membutuhkan bantuan dalam mendampingi pasien yang kesakitan.
Pengantaran Pemeriksaan ke Rumah Sakit Lain Disorot
Sorotan lainnya muncul ketika pasien harus menjalani pemeriksaan CT scan atau X-ray di RSDP dengan tidak di jelaskan kenapa harus di lakukan di RSDP , Menurut kronologi keluarga, proses pemindahan pasien dari ranjang menuju ambulans, pengantaran ke rumah sakit tujuan, hingga kembali ke IGD RSUD Banten sebagian besar ditangani oleh sopir ambulans dan seorang pendamping pasien.
Keluarga mempertanyakan kecukupan tenaga pendamping medis dalam proses pemindahan dan perjalanan tersebut. Mereka berharap prosedur rujukan pemeriksaan, termasuk pemindahan pasien, dilaksanakan dengan dukungan petugas yang sesuai dengan kondisi klinis dan kebutuhan keselamatan pasien.
Kondisi Ruangan dan Keselamatan Pasien
Keluarga juga mengeluhkan kondisi ruangan yang dinilai berbau dan kurang bersih. Selain itu, mereka menyampaikan adanya kejadian pasien lain yang disebut terbanting atau jatuh ke lantai ketika dipindahkan ke ranjang.
Apabila kejadian tersebut benar terjadi, persoalan ini perlu mendapatkan perhatian serius dari manajemen rumah sakit, terutama terkait prosedur pemindahan pasien, kecukupan tenaga, kebersihan lingkungan, serta pencegahan insiden keselamatan pasien.
Ucapan Petugas Saat Pembagian Obat Dipersoalkan
Kekecewaan keluarga semakin bertambah ketika terjadi komunikasi saat pembagian obat. Menurut keterangan pendamping, seorang petugas menyampaikan kalimat:
“Ini keluarga Humairah? Mau dapet obat ga kamu? Dua kali dipanggil-panggil ga nyaut.”
Keluarga menilai ucapan tersebut bernada kasar dan tidak mencerminkan komunikasi pelayanan yang baik. Pendamping menjelaskan bahwa pada saat itu dirinya sedang berupaya menenangkan Khumairoh yang tengah mengalami kesakitan, sehingga tidak mendengar panggilan petugas.
Dalam situasi pelayanan kesehatan, komunikasi yang jelas, santun, dan penuh empati sangat diperlukan. Apabila keluarga tidak merespons panggilan, petugas diharapkan melakukan konfirmasi secara tepat tanpa menggunakan perkataan yang berpotensi merendahkan atau memperkeruh keadaan.
Meminta Evaluasi dan Penjelasan Manajemen RSUD Banten
Atas berbagai pengalaman tersebut, keluarga berharap Direktur dan manajemen RSUD Banten melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelayanan di IGD, termasuk respons terhadap keluhan nyeri pasien, sikap petugas, sistem penyampaian informasi, pendampingan saat pemeriksaan di rumah sakit lain, kebersihan ruangan, serta keselamatan dalam pemindahan pasien.
Keluarga juga berharap pihak rumah sakit memberikan penjelasan resmi mengenai kronologi penanganan Khumairoh, alasan belum dilakukannya penjahitan dalam waktu yang dikeluhkan, serta langkah perbaikan yang akan diambil.
Kritik ini bukan dimaksudkan untuk mengabaikan tugas tenaga kesehatan yang memiliki beban kerja dan prosedur medis tersendiri. Namun, pelayanan kesehatan harus tetap menjunjung tinggi keselamatan pasien, profesionalitas, komunikasi yang baik, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Rumah sakit bukan hanya tempat seseorang mencari kesembuhan, melainkan tempat pasien dan keluarga berharap memperoleh kepastian, kepedulian, serta perlindungan.
Evaluasi yang terbuka dan perbaikan yang nyata diharapkan menjadi langkah penting agar setiap pasien mendapatkan pelayanan yang aman, manusiawi, dan sesuai dengan standar yang berlaku
(Red)
